KMPLS Serahkan Donasi Kepada Penderita Berbagai Penyakit

Jumat, 21 Oktober 2016 Add Comment
KMPLS Serahkan Donasi Kepada Penderita Berbagai Penyakit

Kaliandanews.com, Kalianda - Komunitas Masyarakat Peduli Lampung Selatan (KMPLS), menyalurkan bantuan dari para donatur dan dermawan, kepada masyarakat kurang mampu dan pendertia penyakit di empat lokasi 3 kecamatan yang berada di Kabupaten Lampung Selatan.

KMPLS menyerahkan bantuan pertama kepada Ibu Rosidah warga Tanjung Gading Kecamatan Rajabasa yang menderitaTumor Payudara. Kemudian bantuan ke dua di serahkan kepada Robi Anggara penderita Tumor Ganas dan mengalami kebutaan, warga Desa Jondong Kecamatan Kalianda, dan selanjutnya penyerahan bantuan berupa Kursi Roda yang diterima oleh warga banyurip desa kuripan, bernama Febi Rizqia penderita Cacat Fisik atau Difabel. Dilokasi yang sama desa Kuripan, bantuan terahir diberikan kepada nenek Aida yang menderita lumpuh layu selama 4 tahun.


Ketua KPLS mengatakan, bantuan tersebut memang diperuntukan untuk masyrakat yang menderita penyakit. Bantuan tersebut terkumpul melalui donasi para dermawan, baik secara langsung maupun melalui rekening donasi KPMLS. "Dana tersebut dapatnya dari para dermawan, ada yang tunai ada juga yang lewat rekening. Kami ucapkan terimakasih banyak kepada para dermawan yang telah membantu, serta berbagai media, baik media cetak maupun online yang sudah bnyak membantu kami juga. Sekali lagi kami ucapkan beribu ribu terimakasih" Ujar Hendra Wijaya.

Sementara keluarga pasien mengungkapkan, rasa syukur mereka dan terimakasih yang tak terhingga. "Kami bukan melihat nilainya setidaknya ada perhatian untuk kami warga yang kurang mampu memberi semangat motivasi agar lebih mendekatkan diri kepada allah swt" pungkas abi salah satu keluarga pasien. (ay)

Ruang Tahanan Jessica yang Katanya Kecil, Bau dan Banyak Kecoa

Senin, 17 Oktober 2016 Add Comment
Ruang Tahanan Jessica yang Katanya Kecil, Bau dan Banyak Kecoa
Foto: Istimewa
Kaliandanews.com - Jaksa tampilkan foto-foto ruang tahanan Jessica Kumolo Wongso. Dalam pledoinya diceritakan kisah pilunya berada di sel tahanan Polda Metro Jaya. Menanggapi hal itu,  jaksa kemudian menampilkan foto-foto ruangan di Polda Metro yang disebut ruang tahanan Jessica.

Jaksa Melanie menuturkan, menurutnya soal pilihan ruangan yang kecil, bau, dan banyak kecoa itu, merupakan pilihan dari terdakwa sendiri supaya tidak bergabung dengan tahanan lain. "Kesaksian terdakwa soal ruang tahanan yang kecil, bau, dan banyak kecoa, itu merupakan pilihan terdakwa sendiri supaya tidak digabung dengan tahanan lain. Bahkan, ruang (tahanan di Mapolda Metro Jaya) yang ditempati terdakwa termasuk yang paling mewah," tutur Melanie di persidangan.

Sementara pada foto yang ditampilkan dalam persidangan di PN Jakpus, Jl Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016). Seperti yang dikutip dari detik.com, Jessica tampak sedang duduk di sebuah sofa dengan ada meja dan TV di dekatnya. Di foto lainnya, Jessica tampak duduk di sebuah kursi dan tengah diperiksa penyidik.

Di jeda persidangan, pengacara Jessica, Otto Hasibuan mempertanyakan foto yang ditampilkan jaksa tersebut.  "Anda percaya itu, nanti Jessica akan jawab itu, gempar nanti kalau dijawab ruangan apa itu, nanti akan diceritakan," ungkap Otto, di PN Jakpus, Senin (17/10/2016).

Otto mengatakan, ruangan yang terlihat memiliki AC, TV dan tempat tidur itu bukanlah ruang tahanan seperti yang dituduhkan jaksa sebagai ruang tahanan Jessica yang 'spesial' dibanding tahanan lain. "Bukan, bukan, bukan, akan gempar lah, nanti kalian lihat Jessica akan jawab itu, gempar nanti," sambungnya

Otto memastikan bahwa Jessica akan berbicara di persidangan dan mengklarifikasi pernyataan jaksa atas kamar tahanan di Polda Metro Jaya tersebut. Otto juga menambahkan bahwa penjelasan Jessica akan membuka suatu rahasia yang ditutupi oleh jaksa penuntut umum. "Akan dijelaskan itu, semakin terbuka lagi nanti, kalian lihat nanti, akan dibuka Jessica itu," pungkas otto. (dtk/ay)

Naas..! Niat Setrum ikan Dedy malah Tewas Kesetrum

Minggu, 16 Oktober 2016 Add Comment
KaliandaNews.com – Nasib Tragis dialami Dedy (24) , Niat ingin menangkap ikan dengan alat penyetrum yang disambungkan ke AKI, Dedy justru terperangkap alat penyetrum dengan sendirinya hingga tewas meregang nyawa. 
Naas..! Niat Setrum ikan Dedy malah Tewas Kesetrum
Ilustrasi Mayat
Kejadian menimpa pria 24 tahun tersebut, di Sungai Kahuripan, Kampung Kebonhiji, RT 01 RW 01 Desa GiriJaya, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, Minggu (16/10) sore.

"Kecelakaan diri sendiri yang diakibatkan oleh alat penyetruman ikan," kata Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus, Senin (17/10). 

Peristiwa itu berawal ketika Dedi hendak menyetrum ikan dengan alat bertegangan tersebut. Baru saja akan memulai pencarian, kawat penyetrum ikan mematuk leher korban.  "Korban kesetrum pada saat akan nyetrum ikan, sehingga korban mengalami luka bakar di bagian leher depan dan belakang akibat kawat pengikat setrum yang di sambungkan ke aki," ujarnya. 

Usai terperangkap dengan alatnya sendiri, korban terpeleset. Beberapa saat kemudian, dilaporkan pada kepolisian oleh warga bahwa ada korban terkapar dengan alat setrum ikan. "Kepolisian mendatangi TKP dan dapat dipastikan korban sudah meninggal dunia di lokasi," ujarnya. 

Jasad korban kemudian dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Diamankan barang bukti seperangkat alat setrum ikan yang digunakan korban saat kejadian. (**/Kld)

Penonton Padati Pentas Seni Pelajar Lamsel Di Wisata Kuliner Kalianda

Add Comment
Penonton Padati  Pentas Seni Pelajar Lamsel Di Wisata Kuliner Kalianda
Ist
Kaliandanews.com, Kalianda - Para penonton tumpah ruah di wisata kuliner Kalianda atau sering di sebut Dermaga Boom, tumpah ruahnya penonton ini tak lain ingin menyaksikan penampilan para pelajar yang akan berlaga di acra Pentas Seni Pelajar Lampung Selatan. Acara ini menampilkan beberapa seni berupa Teater, Momolong, Kabaret, Puisi, Biola dan Piano serta Gitar Tunggal. Turut hadir pada Acara ini Kepala Disperbud Fauziah Arief. Sabtu (15/10) Malam.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) Lamsel Ibu Fauziah Arief mengatakan,   sangat mendukung dan berharap agar kegiatan seni pelajar bisa terus di adakan. “Terima Kasih kepada komunitas Puisi Bersama yang sudah menyelenggarakan acara ini, mohon maaf Bupati Lampung Selatan Bp.Zainudin Hasan tidak bisa hadir karna ada kegiatan yang tidak bisa di tinggalkan beliau. Sebagai Kadis Pariwisata Dan Budaya saya sangat mendukung acara ini,di harapkan agar generasi muda khususnya Pelajar lamsel terus berkreasi dalam mengangkat seni budaya lampung” ucapnya.

Sementara salah satu Panitia menyampaikan,  peserta yang tampil dalam acara tersebut berjumalah 120 peserta pelajar. “Alhamdulillah penonton banyak sekali dan temen temen pelajar juga sangat antusias mengikuti acara ini,jumlah awal peserta sekitar 100 peserta,tapi ada penambahan penampilan beberapa sekolah dan jumlah menjadi -+ 120 peserta. Terima kasih pada Bupati dan Disparbud LamSel,juga kepada rekan KMPLS(Komunitas Masyarakat Peduli Lampung Selatan),Motor pustaka Lamsel,Kalianda News  dan teman teman yang sudah mendukung dalam acara ini” tutur khaja muda.

Pada penampilan terakhir salah satu peserta  yang berpakaian layaknya anak SD menyampaikan sebuah pesan tentang menjaga kebersihan LamSel dan menjaga kelestarian Gunung Raja Basa sebagai sumber mata air di daerah kalianda Lampung Selatan. (*ay)

Jangan Panik!! Bila ada Keluarga mengalami Ketergantungan Narkoba,Segeralah lakukan hal ini

Jumat, 14 Oktober 2016 Add Comment
Jangan Panik!! Bila ada Keluarga mengalami Ketergantungan Narkoba,Segeralah lakukan hal ini
Keluarga Sehat tanpa Narkoba | BNN RI
KaliandaNews.com - Bila ada keluarga, saudara dan tetangga yang menjadi pengguna Narkoba, jangan dijauhi atau dikucilkan, segeralah obati dan jangan panik. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diketahui oleh keluarga yang memiliki pecandu narkoba didalamnya: 

1. Bernegosiasi dengan pecandu atau secara paksa membawanya ke rehabilitasi narkoba/IPWL. 

 Ada pecandu yang bersedia secara sukarela mengikuti program pemulihan di rehabilitasi narkoba, namun lebih banyak pecandu yang menolak untuk terisolir di sebuah rehabilitasi. Kehidupan di rehabilitasi narkoba merupakan penderitaan bagi mereka yang masih berada dalam tahap kecanduan, terutama saat melewati kondisi putus zat/sakaw. Namun keluarga harus memahami bahwa ini merupakan langkah yang tepat bagi kehidupan pecandu selanjutnya meskipun harus dilakukan dengan cara paksa. 

Orangtua, terutama Ibu, biasanya tidak tega melihat anaknya harus secara paksa diborgol dan disergap oleh pihak rehabilitasi sehingga membuatnya tidak dapat bersikap tegas terhadap anaknya. Sadarilah pula bahwa pecandu narkoba yang masih aktif sangat lihai dalam memanipulasi dan berbohong. Mereka dapat saja mengumbar janji untuk segera ber-henti menggunakan narkoba atau berpura-pura bahwa mereka sudah berhenti menggunakan narkoba supaya tidak dimasukkan ke tempat rehabilitasi atau dilaporkan ke Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL). Tetapi semakin lama mereka jatuh ke dalam penyalahgunaan narkoba yang terus-menerus, maka akan semakin membahayakan pecandu maupun keluarga itu sendiri. 

 2. Memperbaiki komunikasi dan interaksi dalam keluarga. 

Tidak semua pecandu narkoba datang dari keluarga yang broken home. Ada pula pecandu narkoba yang datang dari keluarga harmonis. Narkoba dapat menjadi masalah bagi siapapun tanpa memandang latar belakang keluarga, tetapi komunikasi dan interaksi yang buruk dalam suatu keluarga membuat tendensi untuk jatuh dalam penyalahgunaan narkoba menjadi semakin besar. Orangtua akan memiliki akses untuk dapat memberikan masukan dan menjadi teman berbagi apabila komunikasi yang terjalin dengan anak telah berjalan dengan baik. 

Jika komunikasi terhambat, maka orangtua akan sulit untuk masuk ke dalam kehidupan anaknya, mengawasi apa saja yang dilakukan anaknya, dan akan menciptakan adanya jarak emosional diantara keduanya. Ini membuat anak merasa terasing di rumah atau di keluarganya sendiri dan mencari perasaan nyaman di luar rumah, yaitu teman-teman sebayanya. Masalah akan muncul apabila teman-teman yang merangkulnya adalah teman-teman yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba. 

3. Tetaplah bersatu sebagai satu keluarga dan tidak terbagi menjadi kubu-kubu yang berseteru.

Biasanya ketika terdapat seorang pecandu narkoba dalam suatu keluarga, maka akan tercipta kubu-kubu di dalamnya, yaitu kubu yang membela pecandu narkoba dan kubu yang tampil seolah-olah menjadi ‘musuh’ bagi pecandu narkoba. Pihak yang membela pecandu biasanya adalah ibu atau saudara perempuan, sedangkan pihak yang berkonflik dengan pecandu biasanya adalah ayah atau saudara laki-laki. 

Terpecahnya satu keluarga menjadi dua kubu ini membuat konflik bertambah luas dan hubungan di dalam keluarga menjadi semakin buruk. Pertengkaran ataupun perceraian terkadang juga menyertai kondisi tersebut. Sadarilah akan adanya kemungkinan ini dan tetaplah fokus pada permasalahan ketergantungan narkoba pecandu. Semakin kompak suatu keluarga dalam merespon perilaku pecandu, maka semakin kondusif keadaan dan semakin besar dukungan yang dapat diberikan kepada pecandu untuk melepaskan diri dari jeratan narkoba. 

4. Tetap berpartisipasi dan menyadari bahwa keluarga merupakan salah satu aset utama dalam pemulihan pecandu narkoba. 

Banyak keluarga dari pecandu narkoba yang menyerahkan pecandu ke rehabilitasi narkoba kemudian seolah-olah ‘lepas tangan’ terhadap permasalahan narkoba pecandu tersebut. Mereka lupa bahwa ketergantungan narkoba bukan semata-mata masalah fisik dimana pecandu narkoba yang telah menjalani program detoksifikasi/rehabilitasi selama beberapa bulan kemudian akan kembali ke kehidupan sebelum menyalahgunakan narkoba dan segalanya akan baik-baik saja. Tidak semudah dan sesederhana itu. 

Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa di Indonesia, 90% pecandu narkoba kembali menggunakan narkoba meskipun telah menjalani pemulihan di rehabilitasi. Karena narkoba merusak berbagai aspek dalam diri pecandu yaitu aspek fisik, mental, emosional, sosial, dan spiritual, maka banyak hal yang harus dipersiapkan oleh seorang pecandu yang telah menyelesaikan program pemulihan untuk dapat kembali ke lingkungan. Dukungan dari lingkungan, terutama dari keluarga menjadi salah satu sumber kekuatan bagi pecandu untuk dapat meneruskan hidupnya lepas dari narkoba. Keluarga dapat turut serta membangkitkan kembali semangat, kepercayaan diri, dan harapan dalam diri pecandu yang sedang dalam masa pemulihan. 

5. Tidak putus asa dan cinta yang tulus (Tough Love). 

Berbagai permasalahan pelik yang dihadapi oleh keluarga pecandu narkoba dapat menimbulkan perasaan lelah, depresi, frustasi atau putus asa. Keluarga dapat mengikuti pertemuan after care dimana sesama keluarga pecandu dapat saling bertemu dan berbagi cerita dan saling memberi semangat serta masukan. 

Namun kesibukan atau perasaan malu untuk memproklamirkan bahwa ia adalah orangtua atau saudara dari pecandu narkoba membuat banyak keluarga kurang aktif untuk terlibat dalam kegiatan seperti itu. Padahal kegiatan tersebut justru dapat menjadi sarana mengekspresikan berbagai emosi negatif dan melepaskan beban emosional yang selama ini tersimpan. Keluarga juga harus belajar untuk menunjukkan tough love kepada pecandu narkoba dengan mampu untuk bersikap tegas dan tidak ikut terbawa atau terombang-ambing dalam pola yang dibentuk oleh pecandu narkoba. 

Pola seperti apakah itu? Orangtua yang tidak mampu menunjukkan tough love cenderung akan membiarkan dirinya dan kehidupannya ikut menjadi berantakan karena perilaku pecandu. Mereka ikut menjadi pembohong untuk melindungi pecandu atau tidak dapat mengurus dirinya sendiri karena terlalu menghabiskan waktu mengurusi pecandu narkoba. Hal itu akan berdampak semakin buruk baik bagi pecandu narkoba maupun bagi keluarga itu sendiri. 

Keluarga merupakan suatu sistem dimana anggota keluarga di dalamnya saling terkait satu dengan lainnya. Ketika salah satu orang di dalamnya terluka, maka semua akan turut merasakan luka tersebut. Begitu pula yang terjadi dalam keluarga seorang pecandu narkoba.
 #StopNarkoba (Sumber : jauhinarkoba.com | editor: Ryd )