Bripka Seladi Polisi yang Nyambi Jadi pemulung akan di GanjarPenghargaan oleh KPK

Sabtu, 21 Mei 2016 Add Comment
bripka seladi Bripka Seladi. ©2016 merdeka.com/darmadi sasongko

KaliandaNews.com – Menjadi seorang polisi harus siap-siap menyiapkan mental baja, sebab jika tidak kuat mental, maka segala cara akan dilakukan demi untuk berpenampilan diatas rata-rata atau minimal setara dengan teman se profesi dilingkungan kepolisian, padahal gaji menjadi seorang polisi tidak besar-besar amat, sama seperti gaji yang diterima abdi negara lainnya.

Jika kejujuran diterapkan seorang polisi, bagi polisi yang latar belakangnya berasal dari keluarga pas-pasan tentu akan membutuhkan waktu sangat lama untuk hanya sekedar mempunyai rumah apalagi sebuah kendaran roda empat, itupun dengan catatan polisi tersebut menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung, dengan cara singkatpun bisa yaitu dengan menggadaikan Sknya di bank dengan konsekuensi gajinya tidak utuh lagi.

Seperti halnya di alami seorang polisi yang bertugas di Polres Malang Kota bernama Bripka Seladi, meskipun sebenarnya jika di telusuri ada banyak sekali polisi bermental baja seperti Bripka Seladi di Indonesia.  Keteladanan Brigade Kepala (Bripka) Seladi mendapatkan banyak pujian dari berbagai kalangan. Pilihannya sebagai pemulung dibanding menjadi polisi curang dalam mencari penghasilan tambahan, patut diapresiasi.

Apresiasi datang dari Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Alexander Marwata yang kebetulan berada di Kota Malang. Alex yang dalam agendanya memberikan kuliah umum di Universitas Widyagama, menyampaikan pujian kepada polisi tiga anak tersebut.

"Saya sebut untuk contoh, kebetulan baru baca tentang polisi Seladi ini," kata Alex di Malang, Sabtu (21/5).

Pujian itu juga disampaikan saat menghadiri dialog anti korupsi di lingkungan Pemkot Malang, Jumat (20/5). Di hadapan aparat penegak hukum (APH) dan pengawasan intern pemerintah (APIP), Seladi dipuja-puji. Alex mengaku beberapa kali mengangkat Seladi sebagai contoh.

Kata Alex, KPK secara institusi akan mengapresiasi Seladi. Pihaknya berencana akan memberikan penghargaan dalam waktu dekat.

"Kami belum tahu teknisnya, kemarin Pak Agus (Ketua KPK) sudah menyinggungnya," katanya.

Alex belum bisa memastikan, waktu pemberian penghargaan, tetapi kemungkinan diberikan saat Hari Anti Korupsi. Pihaknya berharap inspirasi Seladi menjadi virus pemberantasan korupsi.

Seladi, kata Alex, dapat menjadi contoh di lingkungan kepolisian, instansi pemerintahan dan lain-lain. Karena siapapun punya kewajiban bagi pemberantasan korupsi.

"Saya jadikan contoh untuk integritasnya. Karena pemberantasan korupsi tidak hanya dimulai dari pimpinan tetapi juga dari siapa saja, termasuk polisi yang pangkatnya biasa saja," katanya.

Kata Alex, inspirasi dari Seladi tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan sampingan, tetapi juga integritas yang bisa dijadikan teladan.

Bripka Seladi adalah personel Polres Malang Kota Malang yang berdinas di Urusan SIM Kantor Satuan Penyelenggara Administrasi (Satpas).

bripka seladi Bripka Seladi | Foto: merdeka.com

Sehari-hari, Seladi menjadi pemulung sebagai bisnis sampingan sejak 10 tahun terakhir. Seladi menolak segala bentuk pemberian saat menguji para pemohon SIM.

Seladi mengaku kerap dipaksa menerima pemberian secara diam-diam setelah menguji pemohon SIM. Pemberian itu dalam bentuk rokok, uang maupun minuman. Namun hingga kini pemberian tersebut dapat ditolaknya. (kld | Sumber: Merdeka.com)

Kisah Seorang Polisi yang "Nyambi" Jadi Pemulung

Jumat, 20 Mei 2016 Add Comment
bripka seladi Bripka Seladi | Foto: merdeka.com

KaliandaNews.com, Beberapa hari terakhir masyarakat Indonesia di kejutkan dengan seorang polisi bernama Seladi (57). Sehari-hari, bapak tiga orang anak ini bekerja sebagai bintara di Satuan Polisi Lalulintas Polres Malang Kota dengan pangkat Brigadir Kepala (Bripka). Wajahnya sangat tidak asing bagi warga sekitar.

Setahun lagi, Seladi akan memasuki masa purna tugas. Selain mengatur lalulintas, dia juga bertugas sebagai penguji peserta ujian mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) untuk kendaraan roda empat di Satuan Polisi Lalulintas Polres Malang Kota.

Dilansir dari Sindo, Seladi menjadi anggota polisi sejak tahun 1978, sebagai Tamtama dengan pangkat pertama Bhayangkara Dua (Barada). Pria asal Dampit, Kabupaten Malang, ini ternyata memiliki pekerjaan lain yang sering dianggap tidak lazim bagi polisi.

bripka seladi Bripka Seladi sedang mengumpulkan barang rongsokan | Foto: merdeka.com

Selepas tugas sebagai polisi, Seladi berubah profesi menjadi pemulung sampah. Kegiatan memulung sampah tersebut sudah dilakoninya sejak tahun 2006 silam, dengan tujuan untuk mencari tambahan penghasilan.

Kesan polisi yang selalu hidup gelamor dan tampilan rapi serba perlente tidak tampak pada sosok Seladi. Sosoknya jauh dari pandangan umum tentang kehidupan polisi itu.

 Tampilannya sangat sederhana. Bahkan setiap hari dia naik sepeda pancal kuno untuk bekerja. Sepeda pancal atau sepeda angin yang dicat putih tersebut merupakan teman setianya dalam bertugas mengatur lalulintas, di manapun dia ditempatkan.

Saat wartawan mengunjunginya, Seladi tampak ramah. Dengan hanya menggakan celana pendek abu-abu dan baju lorek cerah yang tampak lusuh, Seladi tidak canggung. Dia malah mempersilakan wartawan masuk ke tampat kerjanya mengepul sampah.

"Silakan masuk," kata Seladi merujuk pada rumah kosong tempatnya mengepul sampah. Rumah itu sangat kotor, banyak tumpukan sampah berjubel dan bau. Lalat, nyamuk, dan kecoa tampak berlalu lalang saat wartawan masuk ke dalamn ruang gelap itu.

Meski begitu, Seladi tampak santai di dalam rumah tersebut. Di antara tumpukan sampah, Seladi terlihat memilih sampah-sampah yang bisa dijualnya kembali ke dalam kantong plastik besar. Tidak ada rasa jijik pada wajahnya.

Satu persatu kantong plastik hitam berukuran besar yang isinya sampah dari para penumpang kereta api di Stasiun Besar Malang dibukanya. Sore itu, langit tampak mendung. Suladi ditemani anak keduanya Rizal Dimas Wicaksono (20).

“Setiap hari, apabila saya ada waktu luang dari tugas dinas, pasti saya ke sini untuk memilah sampah,” ungkap Seladi.

Usaha memulung sampah tersebut, sudah dijalani Suladi sejak tahun 2006. Pekerjaan kotor itu terpaksa dijabaninya karena tuntutan hidup yang semakin berat. Utamanya untuk membiayai pendidikan anak, serta memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Seladi mengaku, gajinya sebagai anggota bintara tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhan hidup rumah tangganya. Belum lagi cicilan utang setiap bulan, membuatnya harus memutar otak untuk mencari penghasilan tambahan yang halal.

“Banyak juga sebenarnya yang membicarakan saya karena sebagai polisi saya masih saja memulung dan naik sepeda pancal. Tetapi tidak saya masalahkan, bagi saya yang penting saya mendapatkan penghasilan yang barokah,” ungkapnya lugu.

Pada awalnya, dia hanya mengumpulkan sampah dari tempat sampah yang ada di Markas Polres Malang Kota, serta beberapa pertokoan. Setelah terkumpul banyak, dia baru menjualnya ke pedagang pengepul barang bekas.

“Awalnya pedagang pengepul barang bekas itu, tidak tahu kalau saya anggota polisi,” ungkapnya.

 Seiring berjalannya waktu, akhirnya para pedagang pengepul barang bekas tersebut mengetahui kalau dirinya adalah seorang anggota polisi. Meski begitu, dia dirinya tidak pernah merasa malu. Apalagi saat para pemulung menyapanya di jalan.

“Mereka lihat saya sedang bertugas di pinggir jalan. Mereka banyak yang menyapa, dan mengetahui saya sebagai anggota polisi. Tetapi saya tidak malu, dan kami semua akhirnya menjadi saudara,” ungkap Seladi sambil memiliah sampah.

Dia menjual sampah hasil memulungnya ke sebuah pengepul barang bekas di wilayah Kelurahan Lowokdoro, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Saat pertama kali menjual sampah, Seladi hanya mendapatkan uang senilai Rp. 25.500.

Sekarang, sehari rata-rata dia bisa membawa pulang uang dari hasil memulung sampah antara Rp30-50 ribu. Pada awalnya, sampah itu diantar ke pengepul, tetapi sekarang pedagang pengepulnya yang datang mengambil sampah di tempat Seladi.

Lama kelamaan, Seladi pun jadi mengerti sampah jenis apa saja yang bisa dijual. Pada 2008, ada salah satu temannya yang memiliki rumah kuno dan kondisinya sudah rusak. Rumah tersebut, berada di Jalan DR Wahidin.

Akhirnya, rumah itu disewanya untuk menjadi tempat penampungan dan pemilahan sampah. Dengan sampah itu juga Seladi bisa mempekerjakan dua orang warga. Dalam batinnya, dia tidak pernah menyangka akan membuka lapangan kerja dari mengola sampah.

Dalam memulung sampah, Seladi tidak sendiri. Dia dibantu anaknya yang merupakan lulusan Diploma 2 Jurusan Informatika Universitas Negeri Malang (UM). Sama dengan Seladi, anaknya tidak malu menjadi pemulung meski lulusan universitas.

“Bagi saya, yang terpenting barokah, dan halal. Keluarga juga sangat mendukung. Yang penting lagi, apa yang saya kerjakan tidak sampai mengganggu jam dinas saya,” ungkapnya.

Ketekunan Seladi dalam bekerja ternyata membuahkan hasil. Melalui gaji sebagai petugas polisi yang sangat kecil dan memulung sampah, Seladi bisa menyekolahkan semua anak-anaknya hingga pendidikan tinggi.

Saat ini, puteri pertamanya Dina Aprita Sari sudah lulus kuliah diploma jurusan farmasi dan telah bekerja sebagai tenaga farmasi di RSI Dinoyo, Kota Malang. Putera keduanya Rizal Dimas Wicaksono sudah lulus diploma jurusan informatika.

Rizal saat ini ikut bekerja memilah sampah bersama Seladi. “Dia cita-citanya ingin menjadi polisi. Semoga saja bisa diterima. Mereka saya libatkan memilah sampah agar mereka tahu tentang kerasnya kehidupan," ungkapnya.

Terakhir, putri ketiganya Neni Winarti masih duduk di bangku Kelas 2 SMA Negeri 6 Kota Malang. Saat ini, Seladi beserta istri Ngatiani dan ketiga anaknya masih tinggal menumpang mertua, di Jalan Gadang VI, No 44, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Sementara itu, Rizal Dimas Wicaksono anak Seladi mengaku ingin mengikuti jejak bapaknya sebagai polisi, karena sangat terkesan dengan kejujuran, dan integritas yang ditunjukkan bapaknya tersebut.

“Saya bangga memiliki bapak yang menjaga kejujuran dan integritasnya dalam bertugas. Sebagai anak, saya tidak malu meski harus memulung sampah,” ujarnya penuh senyum kebanggaan.

Selama ini, banyak orang yang menganggap polisi itu tidak memiliki integritas, dengan mudah menerima suap. Tetapi, Rizal tidak melihat sama sekali hal itu pada bapaknya. Baginya, bapaknya telah mampu menjaga amanah sebagai abdi negara. (**)